Masjid dan Makam Sunan Mantingan

17 May 2012

mantinganMasjid dan Makam Mantingan adalah bangunan peninggalan sejarah yang merupakan aset wisata sejarah di Jawa Tengah. Bangunan tua tersebut terletak 5 km arah selatan dari pusat kota Jepara, tepatnya di desa Mantingan kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara. Masjid dan makam tersebut menyimpan Peninggalan Kuno Islam dan kini dijadikan salah satu obyek wisata sejarah di wilayah Jepara.

Masjid Mantingan termasuk bangunan megah sebuah masjid yang dibangun oleh seorang Islam terkenal masa itu, yaitu Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat. Masjid ini sejak awal berdirinya difungsikan sebagai pusat aktivitas penyebaran agama islam di pesisir utara pulau Jawa dan merupakan masjid kedua setelah masjid Agung Demak.

Selain dikenal sebagai wilayah dengan populasi penduduk yang mayoritas muslim, Mantingan juga amat masyhur sebagai gudang pembuat barang ukir-ukiran. Penduduk Mantingan sejak turun-temurun telah menjadikan aktivitas ukir-ukir mengukir sebagai mata pencaharian sehari-hari. Motif ukiran khas Jepara sesungguhnya didominasi oleh hasil karya anak-anak negeri dari Mantingan.

dscn0342-320x200Untuk mencapai lokasi Masjid dan Makam Mantingan tidaklah sulit. Lokasi bangunan masjid dan makam yang berada dalam satu kompleks merupakan kemudahan tersendiri bagi setiap pengunjung karena dapat menikmati dua obyek wisata sekaligus saat ke sana. Wisatawan dapat menjangkau lokasi ini dengan kendaraan roda empat dari berbagai jurusan. Jalanan ke tempat ini relatif mulus beraspal bagus. Pemda Kabupaten Jepara bekerjasama dengan instansi terkait dan pengusaha angkutan selau berupaya memberikan kemudahan transportasi menuju lokasi. Dari Terminal Jepara Mantingan ke lokasi Masjid hanya diperlukan waktu berapa menit saja dengan kendaraan angkutan umum.

Upacara Ganti Kelambu

Masjid Mantingan merupakan masjid kedua setelah Masjid Agung Demak yang kesohor itu. Masjid ini dibangun pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 Masehi. Informasi itu berdasarkan petunjuk dari condo sengkolo yang terukir pada sebuah mihrab Masjid Mantingan berbunyi Rupo Brahmana Wanasari oleh R. Muhayat Syeh Sultan Aceh yang bernama R. Toyib. Pada awalnya R. Toyib yang dilahirkan di Aceh ini menimba ilmu ke tanah suci dan negeri Cina (Campa) untuk dakwah Islamiyah, dan karena kemampuan dan kepandaiannya pindah ke tanah Jawa (Jepara).

Di tempat baru ini, R. Toyib kawin dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) yang adalah putri Sultan Trenggono, sultan kerajaan Demak. R. Toyib kemudian mendapat gelar Sultan Hadiri dan sekaligus dinobatkan sebagai Adipati Jepara (Penguasa Jepara) sampai wafat dan dimakamkan di Mantingan Jepara. Di makam inilah Pangeran Hadiri (Sunan Mantingan), Ratu Kalinyamat, Patih Sungging Badarduwung seorang patih keturunan cina yang menjadi kerabat beliau Sultan Hadiri bernama Cie Gwi Gwan dan sahabat lainnya disemayamkan.

Makam Mantingan selalu ramai dikunjungi pada saat Khool untuk memperingati wafatnya Sunan Mantingan. Dalam acara khool tersebut diadakan upacara Ganti Luwur (Ganti Kelambu) yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali, yakni pada tanggal 17 Rabiul Awal, sehari sebelum peringatan HUT Jepara.

dscn0350-640x480

Legenda Buah Pace

Makam Mantingan sampai sekarang masih dianggap sakral dan mempunyai tuah bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya. Pohon pace yang tumbuh di sekitar makam, konon dapat memberikan rahmat kesuburan bagi pasangan yang belum memiliki anak. Oleh karena itu, banyak wanita yang sudah sekian tahun menikah tapi belum dikarunia putra sering berziarah ke Makam Mantingan dan mengambil buah pace yang jatuh untuk dibuat rujak kemudian dimakan bersama suami. Prosesi makan buah pace dari Makam Mantingan pasangan suami-istri ini menjadi simbol permohonan kesuburan yang insya-allah terkabulkan.

Selain tuah buah pace, Makam Mantingan juga masih menyimpan keistimewaan lainnya. Dalam cungkup Makam Mantingan ada air mantingan atau air keramat yang bertuah. Air keramat tersebut menurut kisahnya ampuh untuk menguji kejujuran seseorang dan membuktikan hal mana yang benar dan yang salah. Secara praktis, biasanya bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya, air keramat ini digunakan bila sedang menghadapi suatu sengketa atau perselisihan yang perlu pembuktian kebenaran informasi dari pihak-pihak yang berselisih. Air bertuah ini kemudian diambil, dimantrai dan didoakan lalu diminum oleh masing-masing pihak. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pihak-pihak bertikai dengan sendirinya akan berkata jujur dalam memberikan informasi yang diperlukan bagi penyelesaian masalah mereka. Boleh percaya, boleh tidak. Silahkan buktikan sendiri yaaa… (Dinas Pariwisata Kab. Jepara)


TAGS Wisata Religi makam mantingan Masjid mantingan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post